Misa’ Kada Dipotuo: Semangat Persatuan dari Tongkonan Kalolok Pong Sampun

Redaksi Helo Jakarta
30 Okt 2026 06:22
Pendidikan 0 44
3 menit membaca

Penulis: Dr. Lince Bulutoding, SE., M.Si., Ak., CA., PCIF., SAS (Dosen Akuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)

Helojakarta.com, Opini Publik – Misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate. Ungkapan leluhur Toraja ini berarti “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Di Tongkonan Kalolok Pong Sampun, Lembang Saluallo, Sangalla
Utara, ungkapan itu bukan sekadar pepatah, melainkan pegangan hidup keluarga besar selama sebelas generasi.

Satu Kata yang Menghidupkan

Secara harfiah, misa’ kada dipotuo berarti satu kata yang membawa kehidupan, sedangkan pantan kada dipomate berarti kata yang terpecah-pecah membawa kematian. Pesannya jelas: keluarga yang sepakat akan bertahan, sedangkan keluarga yang terpecah akan runtuh. Semangat ini sejalan dengan filosofi To Pada Tindo Sia To Pada Ma’ Paramparan yang dipegang teguh oleh keluarga Tongkonan Kalolok Pong Sampun.

Tongkonan, Tempat Duduk Bersama

Tongkonan Kalolok Pong Sampun didirikan oleh Pong Sampun dan istrinya, Lai’ Bulaan. Pong Sampun dikenal sebagai Pangngala Tondok, orang yang pertama kali membuka tanah di Kalolok setelah datang dari Tanamalia.

Tongkonan ini terletak di Jl. Goali Bassi, Rukun Pasang, Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla Utara, Kabupaten Tana Toraja.

Kata tongkonan berasal dari tongkon, yang berarti duduk. Karena itu, ma’ tongkonan bermakna duduk bersama untuk bermusyawarah. Di tongkonan inilah keluarga membicarakan masalah keluarga, persiapan upacara adat seperti Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, maupun kombongan (rapat bersama) hingga tercapai mufakat.

Kada Situru’: Ketika Kesepakatan Lebih Utama

Semangat persatuan paling nyata terlihat dalam cara keluarga menentukan To Urrambu Tongkonan atau pemangku tongkonan. Penentuannya dilakukan melalui kada situru’ (kesepakatan bersama). Keluarga mengenang bagaimana Ne’ Boro’ menyerahkan amanah itu kepada Ne’ Tambing dan istrinya, Lai’ Sesa. Ne’ Tambing adalah anak kedua, bukan anak sulung. Namun, karena keluarga telah sepakat, keputusan itu diterima bersama. Bagi keluarga ini, kesepakatan lebih utama daripada urutan kelahiran.

Persatuan yang Berakar dari Sang Pendiri

Semangat ini berakar dari teladan Pong Sampun sendiri. Keluarga menuturkan bahwa Pong Sampun pernah memenangkan sayembara Puang Buntu Kaero dengan mengalahkan Lua’ Lindo, sosok yang menyumpit anak sang Puang. Ia ditawari emas dan sawah, tetapi hanya memilih sebuah gandang (gendang), benda yang bermakna adat dan menyatukan masyarakat dalam upacara.

Pilihan itu mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah harta pribadi, melainkan apa yang
bermakna bagi bersama.

Tiga Prinsip Menjaga Persatuan

Hingga kini, para pemangku Tongkonan Kalolok Pong Sampun memegang tiga prinsip:

  1. Mengelola tongkonan dengan semangat misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate;
  2. Menjaga dan melestarikan tongkonan; dan
  3. Membangun tongkonan untuk dipergunakan oleh seluruh bati’ taruk bulaan lalosu kandaurena Pong Sampun dan Lai’ Bulaan.

Pulang ke Satu Rumah

Tongkonan tidak dimiliki perorangan, tetapi oleh seluruh keturunan pendirinya. Karena itu,
menjaganya adalah tanggung jawab bersama. Meskipun kini keturunan Pong Sampun tersebar di berbagai daerah, bahkan di perantauan, tongkonan tetap menjadi tempat mereka kembali.

Di tengah zaman ketika banyak keluarga terpecah karena berbagai urusan, pesan dari Tongkonan Kalolok Pong Sampun terasa semakin relevan: satu kata membawa kehidupan, dan persatuan adalah warisan yang paling berharga.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x