
Oleh: Muhammad Adiln Sila
(Antropolog)
Opini Publik, Helojakarta.com, Jakarta – Gelaran Sepakbola Piala Dunia FIFA baru saja dimulai pada 2026 ini di Amerika Serikat, yang bertindak sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko. Tim-tim langganan Piala Dunia sudah bertanding melawan tim-tim dari benua Asia dan Afrika, yang selama ini dianggap underdog atau medioker. Masih ingat pertandingan antara Jerman melawan Arab Saudi pada piala dunia di Korea Selatan tahun 2002 lalu dimana saat itu Timnas Jerman menggelontorkan selusin lebih gol ke gawang Arab Saudi. Sontak publik berucap: “wajarlah tim Asia kalah sama tim Eropa yang memiliki fisik dan mental jauh lebih unggul.” Macam-macam komentar nyinyir dari publik yang terkesan sangat merendahkan tim-tim Asia yang dianggap belum memiliki skill bermain yang mumpuni untuk bersaing dengan tim-tim Eropa.
Tapi komentar nyinyir di atas sedikit demi sedikit memudar setelah tim elit Asia seperti Jepang dan Korea Selatan mulai unjuk gigi dan mampu mengalahkan tim-tim elit Eropa ketika keduanya menjadi tuan rumah bersama pada ajang Piala Dunia tahun 2002. Dalam sejarah pelaksanaan piala dunia, inilah pertamakalinya negara Asia ditunjuk sebagai tuan rumah, Keduanya, baik Jepang maupun Korea Selatan, yang bertindak sebagai tuan rumah bersama piala dunia saat itu berhasil menunjukkan kualitas yang tidak kalah dengan tim-tim Eropa. Bahkan Timnas Korea Selatan berhasil lolos dari penyisihan grup, dan tembus babak semifinal setelah mengalahkan Timnas Italia, langganan juara dunia. Hanya saja waktu itu publik menganggap kesuksesan itu sebagai sebuah kebetulan belaka, karena Korea Selatan bertindak sebagai tuan rumah. Apalagi setelah itu, Korea Selatan tidak mampu melangkah lebih jauh dari penyisihan grup pada piala dunia berikutnya.
Ketika Qatar sebagai negara Asia kedua menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 2022 lalu, publik kembali dikejutkan dengan keberhasilan Timnas Arab Saudi mengalahkan favorit juara dunia Argentina pada partai pembuka dengan skor 2-1. Meski Arab Saudi kalah di pertandingan berikutnya, dan Argentina kemudian bangkit dan menjadi juara dunia, publik mulai membuka mata bahwa tim Asia sudah mampu bersaing dengan tim-tim elit sepakbola. Sampai tulisan ini dibuat, penulis menjadi saksi bagaimana tim -tim Asia pada Piala Dunia 2026 kali ini tidak lagi dipandang sebelah mata. Dimulai dari Timnas Korea Selatan yang mampu mengalahkan Timnas Ceko (sebelumnya dikenal sebagai Cekoslowakia) dengan skor 2-1, lalu Qatar yang bermain seri 1-1 dengan Swiss, Jepang bermain seri 2-2 dengan Belanda, lalu Arab Saudi, 1-1 melawan Uruguay dan Iran bermain 2-2 dengan New Zealand. Yang lebih impresif lagi, Australia yang terdaftar sebagai Tim Asia berhasil mengalahkan Timnas Turkiye yang berperingkat lebih baik dalam rangking dunia dengan skor meyakinkan, 2-0. Hasil mengesankan dari tim-tim Asia pada laga-laga awal mereka ini memberi sinyal kepada dunia bahwa sepakbola Asia mulai layak diperhitungkan.
Dekolonisasi Sepakbola
Dekolonisasi adalah sebuah paradigma sosial yang menyerukan pemahaman yang lebih adil kepada negara-negara bekas jajahan negara Eropa. Sejak negara-negara Asia Afrika meraih kemerdekaannya, sindrom inferioritas negara-negara bekas jajahan ini masih melekat dan membentuk mentalitas di kalangan masyarakatnya. Sebaliknya, negara-negara Eropa memiliki sikap superioritas. Dekolonisasi menjadi sebuah gerakan diplomasi untuk pembebasan dari hegemoni politik dan kultural dari cengkeraman penjajah
Dari kolonialisasi ke dekolonialisasi sepakbola
Kolonialisasi berakar dari etnosentrisme, sebuah faham yang menilai orang lain berdasarkan pada sistem nilainya sendiri, dan merasa budayanya lebih baik dari yang lainnya. Akibatnya, sikap-sikap diskriminatif dan rasial sering muncul dari faham seperti ini. Sebaliknya, dekolonialisasi adalah sikap yang lebih terbuka dan inklusif. Saat ini, negara-negara di Eropa lebih mutikultural dengan menerima warga negara dari beragam latar belakang budaya terutama dari negara-negara bekas jajahannya. Anak-anak para imigran ini kemudian banyak yang bermain membela tim nasional mereka. Sebut misalnya, Timnas Perancis yang memiliki sederet pemain-pemain berdarah Afrika. Pemain paling ikonik adalah Zinedin Zidan yang berdarah Afrika dari orangtuanya yang imigran dari Aljazair. Zidan berperan penting dalam memimpin Timnas sepakbola Perancis dalam menjuarai Piala Dunia pada 1998 dengan mengalahkan Brazil 3-0, dan kembali meraih Piala Dunia pada 2018 dengan pemain berdarah Afrika lainnya yaitu Karim Benzema. Pada gelaran Piala Dunia saat ini, Timnas Perancis kembali menjadi favorit juara dengan pemain kuncinya, Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele yang keduanya berdarah Afrika. Dominannya pemain berdarah Afrika di dalam Timnas Perancis ini membuat publik berkomentar bahwa tanpa pemain berdarah Afrika, Timnas Perancis akan kesulitan untuk menjuarai Piala Dunia sebanyak dua kali.
Kesimpulan
Dominannya pemain berdarah Afrika di Timnas Perancis dan Timnas Eropa lainnya ini secara tidak langsung membuat tim-tim dari Afrika memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi ketika menghadapi tim-tim sepakbola elit dari Eropa dan Amerika Selatan. Mereka tidak lagi rendah diri, tapi memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Kita mencatat beberapa tim dari Afrika seperti Kamerun pernah mengalahkan Argentina, sang juara bertahan pada Piala Dunia 1990, ketika sang mega bintang Maradona masih bermain. Beberapa tahun kemudian pada Piala Dunia 2002, giliran Senegal yang mengalahkan tim Perancis dengan skor 1-0, lalu Maroko yang menumbangkan Belgia dan Portugal untuk menembus babak semifinal pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Kehadiran tim-tim sepakbola dari benua Afrika dan juga Asia pada Piala Dunia 2026 ini layak ditunggu oleh para penikmat bola. Kiprah gemilang tim-tim Afrika seperti Maroko di Piala Dunia 2022 lalu di Qatar telah menjadi simbol penting dekolonisasi sepakbola Afrika terhadap dominasi sepakbola Eropa. Status mereka sudah menjadi tim-tim kuda hitam yang siap membuat kejutan terhadap tim-tim elit dari benua Eropa atau Amerika.
MAS (Jakarta, 20-06-2029).


Tidak ada komentar