Kolaborasi Indonesia–Australia Kembangkan Agrivoltaics guna Perkuat Energi dan Ekonomi Desa

Redaksi Helo Jakarta
27 Jun 2026 03:13
Pendidikan 0 31
3 menit membaca

Helojakarta.com, Bandung –  Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset dari Indonesia dan Australia memulai kolaborasi pengembangan agrivoltaics sebagai upaya mendukung transisi energi sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di pedesaan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia Timur.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan Kick-off Meeting dan Simposium Bilateral bertajuk Agrivoltaics and Energy Challenge in Rural and Remote Islands in Eastern Indonesia di Gedung Rekayasa Molekuler dan Material Fungsional (Labtek XV) ITB, Bandung, Rabu (25/6/026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama KONEKSI LPDP Indonesia–Australia.

Ketua tim riset sekaligus peneliti utama program, Dr. Acep Purqon, mengatakan transisi energi membuka ruang kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menjawab tantangan krisis energi melalui inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat.

“Transisi energi menghadirkan begitu banyak peluang bagi riset, teknologi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Ini menjadi ruang kolaborasi multidisiplin yang mempertemukan bidang pertanian, kehutanan, teknik, bisnis, hingga manajemen untuk bersama-sama menjawab tantangan krisis energi melalui konsep bridging transisi energi,” kata Acep.

Program tersebut melibatkan peneliti dari Murdoch University dan Griffith University, Australia, bersama sejumlah institusi di Indonesia, antara lain ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Padjadjaran, Universitas Cenderawasih, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Politeknik Negeri Fakfak, IAIN Sorong, serta Purnomo Yusgiantoro Center.

Dalam simposium itu, para akademisi membahas berbagai aspek pengembangan agrivoltaics, mulai dari teknologi, pemberdayaan masyarakat, hingga strategi penerapannya di wilayah pedesaan dan kepulauan terpencil.

Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, Dr. Dwi Irwanto, mengatakan pengembangan agrivoltaics menjadi salah satu pendekatan yang didorong ITB untuk menghasilkan solusi atas persoalan energi di Indonesia.

“ITB mendorong berbagai pendekatan untuk menghasilkan solusi krisis energi, termasuk pengembangan agrivoltaics agar diperoleh formulasi yang optimal sesuai karakteristik wilayah-wilayah unik di Indonesia,” ujarnya.

Deputi Investasi dan Pendanaan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), M.

Irfan Saleh, memaparkan peluang investasi sekaligus tantangan penerapan agrivoltaics di pulau-pulau terpencil Indonesia Timur. Menurut dia, dukungan regulasi diperlukan agar energi terbarukan dapat menjadi penggerak kegiatan ekonomi baru di kawasan tersebut.

Acep menilai keberhasilan implementasi agrivoltaics tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

“Kerja sama pentahelix menjadi kunci keberhasilan transisi energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.

Menurut dia, program ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama transisi energi melalui integrasi inovasi ilmiah dengan pengetahuan lokal. Pendekatan tersebut juga mendorong keterlibatan perempuan, generasi muda, dan kelompok yang selama ini kurang terwakili dalam sektor pertanian, perikanan, serta energi terbarukan.

Perwakilan Program KONEKSI LPDP Indonesia–Australia, Parana Ari Santi, mengatakan komunikasi dan koordinasi yang erat antara peneliti Indonesia dan Australia menjadi faktor penting agar hasil riset dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan tersebut ditutup oleh Erlin Puspaputri yang mewakili Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pengembangan agrivoltaics dinilai sejalan dengan arah kebijakan energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sekitar 61 persen atau lebih dari 42 GW di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi.

Porsi EBT dalam bauran listrik nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar 15–16 persen pada 2025 menjadi sekitar 21 persen pada 2030 dan mencapai sekitar 34 persen pada 2034. Target tersebut merupakan bagian dari upaya Indonesia memenuhi komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) 2030 dan mencapai target Net Zero Emission pada 2060.

Melalui model agrivoltaics, produksi energi surya dipadukan dengan kegiatan pertanian sehingga desa tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga berperan sebagai mitra dalam penyediaan energi bersih sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x