Dari Wamena ke Asia Tenggara: Mahasiswa UNAIM Menapak Jejak Internasional

Redaksi Helo Jakarta
22 Okt 2025 12:48
3 menit membaca

Helojakarta.com, jakarta — Pagi itu, di kampus Pascasarjana Universitas Amal Ilmiah (UNAIM) Yapis Wamena, suasana berbeda. Matahari Papua sudah tinggi, tapi halaman kampus ramai. 55 mahasiswa Magister Ilmu Manajemen tampak sibuk. Koper, tas, dokumen, semua berserak rapi. Mereka bersiap berangkat mengikuti Lokakarya Regional Asia Tenggara, 25–31 Oktober 2025, ke Malaysia dan Thailand.

Di teras kampus, terdengar canda tawa. “Paspor sudah dicek belum?” tanya salah satu mahasiswa. “Charger cadangan jangan lupa,” sahut yang lain. Sederhana, tapi hangat. Ada rasa tegang, tapi lebih terasa semangat yang membara.

Perjalanan ini lebih dari sekadar ke luar negeri. Ini lokakarya akademik, seminar internasional, dan kunjungan ilmiah ke tujuh universitas ternama: UCYP University, UniSZA, Fatoni University, UKM, UTeM, UMT, Yala Rajabhat University.

Di ruang kerjanya, Dr. Tiomy Butsianto Adi, SE., M.Si., tersenyum. Mata berbinar. “Ini kesempatan emas bagi mahasiswa. Mereka bisa berdiskusi, berkolaborasi, dan mempresentasikan hasil penelitian di forum internasional,” ujarnya. Ia menekankan, lokakarya ini juga momentum memperluas jejaring internasional UNAIM.

Yang menarik, sebagian besar mahasiswa adalah putra-putri asli Papua Pegunungan. Ada yang bekerja di pemerintah, BUMN, maupun swasta. Mereka bukan mahasiswa biasa. Mereka membawa pengalaman nyata. Diskusi akademik jadi hidup. Teori bertemu praktik.

Saya berjalan di antara mereka. Ada yang menata koper, ada yang mengecek laptop, ada yang berceloteh bercampur tawa dan serius. Semua sadar, perjalanan ini penting. Bukan sekadar menjejaki negara lain, tapi membawa nama UNAIM dan Papua Pegunungan ke panggung internasional.

Salah satu mahasiswa, Maria, tersenyum malu. “Ini pertama kali saya ke luar negeri. Senang bisa melihat langsung bagaimana universitas lain mengelola pendidikan dan manajemen. Banyak hal yang bisa dipelajari,” katanya.

Rudi yang bekerja di instansi pemerintah bertanya pada temannya, Yohana: “Bagaimana supaya presentasi saya menarik bagi dosen di sana?” Yohana tersenyum, menepuk bahunya: “Santai saja. Kita belajar, bukan lomba.”

Angin sore membawa aroma kopi dari kantin kampus. Hangat, menenangkan, seolah memberi energi ekstra sebelum mereka memulai perjalanan internasional pertama mereka.

Dr. Tiomy menambahkan, pengalaman ini akan menjadi modal besar. Mahasiswa akan menyerap cara universitas lain mengelola pendidikan, penelitian, dan kolaborasi internasional. “Setiap pengalaman akan dibawa pulang. Tidak hanya pengetahuan, tapi juga jaringan global dan cara berpikir internasional,” katanya.

Ketika saya menatap mereka, terlihat jelas: ini perjalanan membentuk karakter. Membuka wawasan global. Membangun percaya diri. Menguatkan akar sebagai putra-putri Papua Pegunungan.

Selama sepekan di Malaysia dan Thailand, universitas-universitas menjadi laboratorium pengalaman. Diskusi menjadi benih kolaborasi. Dan setiap senyum mahasiswa adalah tanda energi baru yang akan mereka bawa pulang ke Wamena.

Dr. Tiomy menutup wawancara dengan kalimat ringan tapi bermakna: “UNAIM berkomitmen memberi pengalaman terbaik bagi mahasiswa Papua. Agar mereka berdaya saing global dan berkontribusi nyata dalam pembangunan daerahnya.”

Ransel siap. Paspor di tangan. Semangat terpancar. Ini bukan sekadar perjalanan akademik. Ini awal dari sesuatu yang lebih besar. Perjalanan dari Wamena, menembus batas negara, membawa ilmu, pengalaman, dan semangat membangun Papua Pegunungan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x