Dewan Pendidikan Maros Dorong Kolaborasi Global PT lewat Seminar Internasional

Redaksi Helo Jakarta
10 Jan 2026 07:05
2 menit membaca

Helojakarta.com — Dewan Pendidikan Kabupaten Maros mengambil peran strategis dalam memperluas jejaring global pendidikan tinggi dengan memfasilitasi keterlibatan perguruan tinggi (PT) di Maros pada Seminar Internasional Pendidikan Tinggi atau International Seminar on Higher Education (ISHE) 2026. Kegiatan ini digelar selama dua hari, Jumat–Sabtu (9–10 Januari 2026), dan mempertemukan akademisi lintas negara dalam satu forum kolaboratif.

Seminar internasional tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Southeast Asian Academic Mobility (SEAAM), Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) PBHMI, serta jejaring perguruan tinggi dari Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Forum ini mengangkat tema penguatan inovasi dan kolaborasi akademik di era digital, dengan pendekatan diskusi hibrida yang memungkinkan partisipasi global.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, Ismail Suardi Wekke, menyebut keterlibatan PT di Maros dalam forum internasional ini sebagai langkah konkret memperluas akses kolaborasi akademik global. Dewan Pendidikan, kata dia, berposisi sebagai fasilitator agar kampus-kampus daerah tidak tertinggal dalam arus internasionalisasi pendidikan tinggi.

“Ini adalah peluang strategis. Dewan Pendidikan Kabupaten Maros memfasilitasi agar perguruan tinggi di daerah bisa terlibat langsung, baik sebagai peserta maupun pemateri, dalam ekosistem akademik global,” ujar Ismail.

ISHE 2026 dirancang bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang perencanaan kerja sama nyata. Agenda seminar diarahkan pada penyusunan kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat lintas benua, dengan fokus pada isu-isu global seperti transformasi teknologi, inovasi pendidikan, dan keberlanjutan ekonomi.

Sebagai bagian dari Komite Saintifik ISHE 2026, Ismail menegaskan bahwa forum ini diproyeksikan menjadi pertemuan rutin yang berorientasi pada dampak. Menurutnya, tantangan utama pendidikan tinggi saat ini adalah memastikan hasil riset tidak berhenti di jurnal, tetapi memberi pengaruh langsung terhadap kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat.

“Melalui kemitraan SEAAM, LTMI PBHMI, dan perguruan tinggi, kita membangun fondasi agar luaran riset akademik bisa diterjemahkan menjadi solusi nyata di tingkat regional,” katanya.

Keterlibatan organisasi mahasiswa juga menjadi sorotan. Direktur LTMI PBHMI, Fatih Saida, menilai kolaborasi ini sebagai bentuk komitmen generasi muda dalam mengawal isu teknologi dan sains. Mahasiswa, menurutnya, harus ditempatkan sebagai aktor aktif dalam pengembangan inovasi, bukan sekadar penerima pengetahuan.

Hari kedua seminar, Sabtu (10/1), diisi dengan rangkaian sesi lanjutan hingga perumusan rekomendasi strategis. Rekomendasi tersebut akan disampaikan kepada para pemangku kepentingan sebagai kontribusi akademik terhadap pembangunan nasional dan kawasan Asia Tenggara.

Bagi Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, keterlibatan dalam ISHE 2026 menegaskan arah baru penguatan pendidikan tinggi daerah: membuka jejaring global, mendorong kolaborasi riset internasional, dan memastikan kampus-kampus di daerah memiliki posisi setara dalam percaturan akademik dunia.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x