Muhammad Dzakiyy Jamil Lukman dari Sidrap jadi Sorotan di GSI Manggala-Makassar

Redaksi Helo Jakarta
25 Sep 2025 02:50
Olahraga 0 47
3 menit membaca

Nomor punggungnya tidak glamor. Bukan 7. Bukan 10. 21.
Tapi sore itu, di Lapangan Lantamal IV Makassar, semua orang justru sibuk menoleh ke nomor itu.

Penulis: Edy Basri

Makassar sore itu seperti biasa: riuh. Kapal bongkar muat di pelabuhan. Klakson truk kontainer. Motor berseliweran di Jalan Yos Sudarso. Tapi di balik pagar besi Lantamal IV, ada hiruk-pikuk lain. Bukan mesin. Bukan kapal. Melainkan teriakan bocah-bocah berseragam bola.

Enam tim SMP berkumpul. Sidrap, Wajo, Enrekang, Barru, Luwu Utara, Makassar. Mereka datang dengan semangat yang sama: membawa nama daerah. Seolah-olah setiap gol adalah harga diri kampung halaman.

Makassar membuka turnamen dengan kemenangan telak. 3-0 atas Luwu Utara. Para pemainnya bermain seperti sudah hafal skenario. Satu-dua sentuhan. Operan cepat. Pertahanan rapat. Tapi yang paling jadi bahan bisik-bisik di tribun bukan skor itu. Melainkan satu anak.

Nomor punggung 21. Muhammad Dzakiyy Jamil Lukman. Umurnya baru 14 tahun. Anak kelas VIII B di UPT SPF SMP Negeri 19 Makassar. Teman-temannya memanggilnya Bang Djack. Dan di lapangan, ia ditempatkan sebagai gelandang serang kanan.

Dari sisi kanan lapangan, ia seperti punya jalur khusus. Kadang menggiring bola seperti kereta cepat, kadang berhenti mendadak dan mengubah arah. Kadang mengirim umpan silang yang tajam. Anak-anak seumurannya biasanya masih lari terburu-buru. Tapi Bang Djack bisa mengatur tempo. Bisa sabar. Bisa cerdik.

Saya sempat bertanya dalam hati: siapa yang mengajarinya membaca ritme permainan? Sebab umumnya, pemain remaja hanya tahu berlari dan menendang sekuat tenaga. Bang Djack sudah lain. Ia terlihat bermain dengan kepala, bukan sekadar kaki.

Julai lalu, ia juga yang membawa Kecamatan Manggala juara GSI Makassar. Dari sana ia terpilih ke tim kota. Artinya, ini bukan kebetulan. Ia memang punya jejak konsisten. Nomor 21 itu jadi semacam tanda tangan. Tidak glamor seperti 7 atau 10. Tapi ia menjadikannya berbeda.

Pelatih Sofyan Haeruddin, guru SMP Negeri 18, memandang puas dari tepi lapangan. Asisten coach Sukma, yang sehari-hari mendidik Bang Djack di SMPN 19, beberapa kali memberi isyarat. Keduanya tahu anak-anak ini bukan sekadar main bola. Mereka sedang belajar kerja sama, keberanian, dan cara mengendalikan ego.

Penonton di tribun pun tidak diam. Ada guru yang membawa drum. Ada teman-teman sekolah yang bersorak tiap kali Bang Djack menyentuh bola. Ada orang tua yang berdoa lirih. Semua terhanyut.

Makassar sudah mencatat sejarah: 2023 ke Bogor, 2024 tembus 16 besar di Jakarta. Tahun ini mereka melaju ke semifinal. Dan di balik semua itu, ada wajah-wajah remaja penuh keringat. Ada Bang Djack, anak polisi dari Sidrap yang kini berlari di sayap kanan Makassar.

Besok, giliran siswi SMP yang akan mengisi lapangan. Mungkin sorotannya berbeda. Tapi sama-sama membawa pesan: olahraga ini bukan hanya soal menang. Ia tentang kesempatan. Tentang ruang terbuka di tengah kota. Tentang anak-anak yang belajar mimpi dengan cara berlari di atas rumput hijau.

Nomor 21 itu, siapa tahu, akan jadi cerita besar di masa depan. Atau mungkin hanya akan tinggal kenangan manis di tribun tua Lantamal. Tapi sore itu, penonton yakin: sayap kanan Makassar sedang punya anak emas. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x