Jejak Akademisi Indonesia di Tiongkok: Daya Sanding dari Tanah Papua

Redaksi Helo Jakarta
23 Sep 2025 03:58
3 menit membaca

CHANGSHA — Begitu pesawat mendarat di Changsha, saya langsung disambut udara yang “ganjil”. Bukan panas. Bukan dingin. Tapi campuran keduanya. Udara musim gugur memang suka main-main. Siang bisa bikin keringat, malam bikin jaket terasa kurang tebal.

Kota ini lebih tua dari yang saya bayangkan. Tapi juga lebih sibuk dari yang saya kira. Gedung pencakar langit berdiri di samping bangunan bergaya lama. Trotoarnya lebar. Pohon-pohon rindang. Orang-orang berjalan cepat. Seperti ada kesepakatan tak tertulis: di Changsha, semua orang harus terlihat sibuk.

Di kota inilah, seorang akademisi Indonesia dari Papua berdiri di podium: Ismail Suardi Wekke.

Ia bukan turis. Ia datang bukan untuk berfoto di tepi Sungai Xiangjiang. Ia datang untuk bicara. Sebagai keynote speaker. Konferensi internasional tentang AI dan pendidikan. Auditorium penuh. Dari Amerika, Jepang, Jerman, sampai Tiongkok. Semua hadir.

Saya sempat deg-degan. Bagaimana seorang profesor dari Papua menghadapi audiens sekelas itu?

Tapi begitu ia mulai bicara, deg-degan saya hilang. Ia tidak membuka dengan teori rumit. Tidak dengan jargon akademis. Ia bercerita. Tentang ruang kelas sederhana di Papua. Tentang guru yang tetap mengajar meski listrik padam. Tentang bagaimana teknologi seadanya bisa diperas jadi metode belajar yang kreatif.

Ia tampil tenang. Tidak ada kata yang terburu-buru. Tidak ada slide yang terlalu ramai. Audiens mendengarkan. Sunyi.

Dan ketika sesi tanya-jawab, seorang profesor senior dari Hong Kong berdiri. “Pekerjaan Anda luar biasa. Kami harus belajar banyak dari Anda,” katanya.

Saya tahu, itu bukan basa-basi. Akademisi jarang memuji terang-terangan. Kalau tidak tulus, biasanya cukup dengan anggukan.

Prof. Wekke tersenyum. Ia memang punya istilah yang pas untuk momen ini: “daya sanding.” Bahwa akademisi Indonesia tidak hanya bisa hadir di panggung dunia. Tapi juga sejajar. Bahkan bisa menginspirasi.

Sebenarnya, ia sudah lama dikenal. Distinguished Professor di North Bangkok University, Thailand. Tapi apresiasi di Changsha ini terasa lain.

Saya ikut bersamanya berkeliling. Ia bukan tipe yang suka membuang waktu. Setiap jeda ia isi dengan diskusi. Kadang dengan peneliti Tiongkok. Kadang dengan kolega dari Singapura. Kadang dengan mahasiswa yang nekat menghampiri.

Saya perhatikan satu hal: ia lebih banyak bertanya daripada bercerita. Mungkin karena ia percaya, ilmu itu bukan untuk dipamerkan. Tapi untuk ditukar.

Kami sempat diajak melihat laboratorium kampus. Isinya serba canggih. Ada robot kecil yang dipakai untuk eksperimen pembelajaran. Ada layar besar yang menampilkan data real-time. Saya perhatikan wajah Prof. Wekke. Ia kagum, tentu. Tapi saya tahu kepalanya juga penuh perbandingan: bagaimana caranya membawa semangat itu ke ruang kelas sederhana di Papua.

“Ilmu itu bahasa universal,” katanya kepada saya. “Tidak ada batas negara. Tidak ada sekat bahasa. Kalau ada niat, ia bisa menjembatani siapa saja.”

Malamnya, kami berjalan di tepi Sungai Xiangjiang. Sungai panjang yang membelah kota. Lampu-lampu kota memantul di permukaan air. Orang-orang ramai, tapi suasananya tenang. Di situ ia bercerita lagi. Tentang mimpi membawa mahasiswa Papua ke forum-forum dunia. Tentang harapan kolaborasi internasional yang nyata, bukan sekadar dokumen kerjasama.

Saya jadi berpikir: perjalanan ini bukan hanya soal undangan resmi. Bukan soal nama di daftar keynote speaker. Ini tentang bagaimana kisah kecil dari Papua bisa menggema sampai auditorium megah di Changsha.

“Suatu hari saya akan kembali ke sini,” katanya pelan. “Tapi tidak hanya sendiri. Saya ingin membawa lebih banyak kisah dari Indonesia.”

Saya percaya.

Karena perjalanan seorang akademisi, bagi Prof. Wekke, bukan tentang panggung. Bukan tentang tepuk tangan. Tapi tentang apa yang bisa ia bawa pulang—dan apa yang bisa ia bagikan lagi.

Keesokan paginya, ketika kami hendak meninggalkan Changsha, angin musim gugur kembali berhembus. Seolah ingin mengingatkan: ada jembatan panjang yang baru saja terbangun. Dari ruang kelas sederhana di Papua. Menuju panggung dunia di Changsha. (ed)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x